Sebelum penulis memulai suatu
pekerjaan
mengenai
analisa pemasangan LBS motorized lengkap dengan RTU di penyulang Sriwijaya terlebih dahulu penulis mengumpulkan data – data yang terkait dengan
sistem penyaluran distribusi 20 kV. Penyulang Sriwijaya di suplai dari trafo I
/ 60 MVA gardu induk Pemecutan Kelod dengan menggunakan sistem tipe radial
loop, saluran udara tegangan menengah (SUTM) dan SKTM.
Data Jaringan Distribusi dan Jumlah Pelanggan
Penyulang Sriwijaya
Single Line Penyulang Sriwijaya Dengan Dua Section
Data Jumlah Trafo dan Pelanggan
Selain tabel tersebut penulis juga membuat
flowchart sebagai acuan atau pedoman bagi Dispatcher dalam melakukan
pengaturan sistem distribusi 20 kV. Pedoman tersebut tertuang dalam buku
standarisasi atau SOP (Standing Operasional Prosedrure) Jaringan Distribusi Tegangan Menengah 20 kV
Flowchart Penanganan Gangguan 2
Section
Kondisi Sebelum
Pemasangan LBS Motorized.
Sebelum dipasang LBS
motorized penyulang Sriwijaya terbagi dalam dua section yaitu section I dari
PMT/CB gardu induk sampai dengan recloser Kopi Pot, sedangkan section dua dari
recloser Kopi Pot sampai dengan LBS Br. Pering posisi buka pertemuan dengan
penyulang Bunisari.
Misalkan
penyulang Sriwijaya Trip atau gangguan dengan indikasi Earth Fault (EF) atau Over
Current (OC) dengan arus 153A, sedangkan recloser Kopi Pot tidak trip dan tidak
ada indikasi, sehingga terjadi padam disepanjang jaringan, kondisi ini dapat
dilihat seperti gambar dibawah :
Penyulang Sriwijaya Gangguan di Section I
maka sesuai
SOP yang akan dilakukan oleh Dispatcher APD adalah :
- Melokalisir section I, Recloser Kopi Pot dilepas secara remote.
- Karena Recloser Kopi Pot tidak trip dan tidak ada indikasi, maka gangguan diyakinkan ada di section I.
- Dispatcher menginstruksikan ke Turjardis Area untuk memanuver section II ke penyulang Bunisari dengan memasukan LBS Br. Pering secara manual (LBS belum motorized).
- Dispatcher menginformasikan ke Turjardis Area untuk melakukan inspeksi di sepanjang jaringan section I penyulang Sriwijaya yaitu dari GI sampai di Recloser Kopi Pot.
- Kurang lebih 30 menit petugas Yantek Kuta sampai di lokasi untuk memasukan LBS Br. Pering, beban section II dimanuver ke penyulang Bunisari trafo V / 60 MVA GI. Pesanggaran. Dengan demikian Beban penyulang Bunisari akan bertambah sebesar 81A, sehingga bebannya berubah dari 145A menjadi 226 A.
- Selanjutnya petugas Yantek Kuta inspeksi section I dan mengatasi gangguan sampai selesai (1.30 jam).
- Selesai mengatasi gangguan, petugas Yantek melalui Turjardis minta ijin penormalan section I.
- Dispatcher menormalkan penyulang Sriwijaya sampai Recloser Kopi Pot.
- Jika penyulang Sriwijaya masuk aman selanjutnya dilakukan penormalan sistem seperti normal operasinya.
- Dispatcher APD memasukan recloser Kopi Pot (parallel penyulang Sriwijaya dengan penyulang Bunisari).
- PetugasYantek Kuta memisahkan parallel dengan melepas LBS Br. Pering.
- Kondisi penyulang Sriwijaya normal operasi.
Penyulang Sriwijaya Normal Operasi
Dari
kejadian diatas, maka terjadi pemadaman selama 2 jam 15 menit dan mengakibatkan
adanya kWh tak tersalurkan sebesar 8.944 kWh :
Gangguan
Sebelum Dipasang LBS Motorized
Kondisi Setelah
Dipasang LBS Motorized Lengkap RTU
Dengan
terpasangnya LBS motorized lengkap RTU pada jaringan distribusi 20 kV, jika
terjadi gangguan yang mengakibatkan trip_nya suatu PMT GI / Recloser Pole
Mounted, pengatur jaringan (Dispatcher) lebih cepat mengetahui arah atau
section yang terganggu karena LBS tersebut dilengkapi dengan FI (Fault
Indikator yang dapat bekerja dan mengirimkan
sinyal gangguan ke pusat kontrol.
Sehingga
Dispatcher dengan cepat melokalisir gangguan serta menormalkan section yang tidak
terganggu. Dengan demikian durasi gangguan / SAIDI akan lebih pendek, petugas Area
lebih cepat menelusuri jaringan yang terganggu karena sectionnya pendek, daerah
padam berkurang dan kWh tak tersalurkan menjadi sedikit.
Single
Line Penyulang Sriwijaya Dengan Tiga Section
Data Jumlah Trafo dan Pelanggan Tiga Section
Misalkan
penyulang Sriwijaya Trip atau gangguan dengan indikasi Earth Fault (EF) atau Over
Current (OC) dengan beban 153 A sedangkan recloser Kopi Pot tidak trip dan
tidak mengirimkan sinyal gangguan ke pusat kontrol, kondisi penyulang Sriwijaya
dapat digambarkan sebagai berikut :
FI di LBS Bena Sari Menyala
Flowchart Penanganan Gangguan Dengan 3 Section
Dari
kejadian diatas sesuai dengan flowchart dan SOP yang telah disepakati dengan
Area, maka langkah –langkah penanganan gangguan yang dilakukan oleh Dispatcher
adalah :
- Melihat dan mencatat indikasi rele yang bekerja dan beban sebelum trip.
- Melihat FI yang bekerja di LBS Bena Sari dan recloser Kopi Pot.
- Jika FI di LBS Bena Sari menyala dan recloser Kopi Pot tidak trip, maka gangguan dipastikan ada di section 2 yaitu antara LBS Bena Sari sampai di recloser Kopi Pot.
- Satu menit kemudian Dispatcher akan melepas LBS Bena Sari dan menormalkan PMT di GI, maka section I normal. Dispatcher menginformasikan jurnal ke Turjardis Area.
Lokasi Gangguan di Section II
- Dispatcher akan melokalisir section II, dengan melepas recloser Kopi Pot. Dan memasukan LBS Br Pering secara remote (LBS sudah motoriszed), sehingga section III bertegangan dari penyulang Bunisari.
- Dispatcher menginformasikan ke Turjardis Area untuk melakukan inspeksi di sepanjang jaringan section II penyulang Sriwijaya yaitu dari LBS Bena Sari sampai di Recloser Kopi Pot.
- Petugas Yantek Kuta inspeksi section II dan mengatasi gangguan sampai selesai (50 menit). Dilakukan lebih cepat karena jarak section II pendek.
- Selesai mengatasi gangguan, petugas Yantek melalui Turjardis minta ijin penormalan section II.
- Dispatcher menormalkan section II dengan memasukan LBS Bena Sari sampai di Recloser Kopi Pot.
- Jika masuk dengan aman selanjutnya dilakukan penormalan sistem seperti normal operasinya.
- Dispatcher memasukan recloser Kopi Pot secara remote (parallel penyulang Sriwijaya dengan penyulang Bunisari).
- LBS Br. Pering dibuka remote untuk memisahkan parallel dengan penyulang Bunisari.
- Kondisi penyulang Sriwijaya dan penyulang Bunisari normal operasi.
Kondisi Gangguan Sudah Teratasi
Dari kejadian
diatas, maka terjadi pemadaman selama 0:51 menit (0,85 jam) dan mengakibatkan
adanya kWh tak tersalurkan sebesar 1.435 kWh seperti terlihat dalam tabel 6.4
dibawah.
Data
Gangguan Sesudah Dipasang LBS Motorized
Analisa Operasi dan Finansial
Dari kejadian penangan Gangguan yang
dilakukan diatas, sebelum dipasang LBS motorized dan sesudah dipasang LBS motorized yaitu untuk memperpendek
section atau menambah section dari dua section menjadi tiga section di jaringan
distribusi 20 kV penyulang Sriwijaya, maka didapat hal – hal sebagai berikut :
- Dengan tiga section Dispatcher lebih cepat menentukan lokasi /section yang terganggu karena LBS motorized dilengkapi sinyal FI, Dispatcher dengan cepat melokalisir gangguan dan menormalkan section yang tidak terganggu, sehingga jumlah pelanggan yang terganggu berkurang yaitu dari 923 pelanggan menjadi 596 pelanggan atau berkurang 327 pelanggan.
- Petugas Area / Yantek lebih cepat melakukan inspeksi jaringan dan mengatasi Gangguan karena jarak section lebih pendek, sehingga respond time dan SAIDI menjadi lebih baik.
- Dengan dua section waktu yang diperlukan mengatasi gangguan / pemadaman adalah 2.15 jam sedangkan dengan tiga section hanya memerlukan 0.51 jam, jadi 1.24 jam lebih cepat, sehingga lebih efisien.
- Besarnya kWh yang tidak tersalurkan menjadi semakin kecil yaitu dari 8.944 kWh menjadi 1.435 kWh, sehingga terjadi penurunan sebesar 7.509 kWh atau kalau dihitung dengan tarif B4 (Rp.1.645/kWh) maka terjadi efisiensi sebesar Rp.14.712.247 – Rp.2.361.225 = Rp. 12.351.022 untuk sekali Gangguan.